◆ Sejarah Partisipasi Indonesia di World Games
World Games bukanlah ajang baru bagi dunia olahraga, meski bagi sebagian masyarakat Indonesia namanya terdengar asing dibanding Olimpiade atau Asian Games. World Games adalah kompetisi internasional yang mempertandingkan cabang olahraga non-Olimpiade seperti muay thai, billiard, panjat tebing, hingga olahraga dansa. Indonesia mulai ikut serta sejak dekade 1990-an, namun baru dalam beberapa edisi terakhir benar-benar menunjukkan perkembangan signifikan.
Tahun 2025 di Chengdu, China, jadi panggung penting. Sebanyak puluhan atlet Indonesia dikirim untuk menguji kemampuan di cabang-cabang baru. Persiapan mereka tidak mudah: pelatnas jangka panjang, uji coba ke luar negeri, hingga tantangan dana yang selalu terbatas. Namun semangat yang dibawa para atlet jelas: membawa Merah Putih berkibar di level dunia.
Bagi Indonesia, partisipasi ini lebih dari sekadar urusan medali. Ajang seperti World Games adalah laboratorium prestasi, tempat mengukur sejauh mana pembinaan atlet bisa menembus standar internasional. Di sinilah bibit-bibit juara masa depan dilatih untuk nantinya siap menghadapi event besar lain, termasuk Olimpiade.
◆ Pencapaian Medali di Chengdu 2025
World Games bukan sekadar ajang olahraga alternatif, tapi di sinilah prestasi Indonesia World Games 2025 mulai dilihat dunia. Ajang ini jadi batu loncatan besar bagi atlet non-Olimpiade untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Indonesia sukses mencetak sejarah dengan meraih total 9 medali: 4 emas, 4 perak, dan 1 perunggu. Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat 20 dunia, melampaui target awal dari Kemenpora yang hanya membidik 2 emas. Pencapaian ini dianggap sebagai sinyal bahwa olahraga non-Olimpiade di Indonesia mulai menemukan pijakan kuat.
Emas datang dari cabang-cabang yang sering kali tidak mendapat sorotan besar di tanah air. Panjat tebing, yang sebelumnya populer di Asian Games, kembali jadi andalan dengan dua medali emas. Sementara dua emas lainnya disumbang oleh muay thai dan wushu. Menariknya, cabang-cabang ini lekat dengan budaya olahraga Asia, sehingga Indonesia mampu bersaing dengan tuan rumah China maupun negara kuat lain seperti Thailand dan Korea Selatan.
Perak dan perunggu hadir dari cabang dansa olahraga, billiard, dan karate. Meski bukan cabang mainstream, prestasi ini justru memperlihatkan bahwa talenta Indonesia tidak terbatas pada sepak bola atau bulutangkis. Atlet-atlet muda yang tampil di Chengdu sebagian besar baru pertama kali turun di level internasional, namun sudah bisa bersaing hingga podium.
◆ Kebanggaan Nasional dan Dampaknya di Dalam Negeri
Prestasi di World Games 2025 tidak hanya soal angka medali, tapi juga soal kebanggaan nasional. Di media sosial, nama para peraih medali emas sempat trending. Masyarakat mulai menaruh perhatian pada cabang olahraga yang selama ini kurang mendapat sorotan. Bahkan beberapa stasiun TV swasta menyiarkan ulang cuplikan pertandingan panjat tebing dan muay thai, yang biasanya jarang sekali masuk layar kaca.
Dampaknya terasa ke generasi muda. Klub-klub panjat tebing di daerah melaporkan kenaikan jumlah pendaftar, begitu juga dengan dojo muay thai. Fenomena ini mirip dengan apa yang terjadi setelah Asian Games 2018, di mana prestasi atlet memicu gelombang minat baru pada olahraga tertentu. Artinya, medali emas tidak hanya jadi catatan prestasi, tapi juga investasi sosial yang memperkuat basis olahraga di akar rumput.
Selain itu, capaian ini memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. Dengan meraih peringkat 20 dari ratusan negara peserta, Indonesia menunjukkan bahwa bisa bersaing di ajang multinasional non-Olimpiade. Prestasi ini memberi sinyal kuat bahwa pembinaan atlet nasional tidak boleh hanya fokus pada cabang besar, tapi juga membuka peluang di cabang-cabang alternatif yang potensial.
◆ Strategi dan Pembinaan Atlet Indonesia
Keberhasilan di Chengdu tentu tidak datang begitu saja. Sejak dua tahun lalu, Kemenpora bersama KONI sudah mulai menggarap program khusus untuk cabang non-Olimpiade. Salah satunya adalah menyediakan fasilitas latihan panjat tebing standar internasional di Jawa Barat, serta mengirimkan atlet muay thai untuk mengikuti training camp di Thailand.
Strategi pembinaan ini berbuah manis. Atlet panjat tebing Indonesia yang dulu dikenal hanya di level Asia kini sudah menembus panggung dunia. Begitu pula dengan wushu, yang awalnya hanya jadi olahraga ekstrakurikuler di sekolah-sekolah Tionghoa, kini mampu menghasilkan emas bergengsi. Kuncinya ada pada pembinaan usia muda yang konsisten, serta dukungan pelatih asing yang dibawa untuk meningkatkan kualitas.
Namun, masih ada tantangan. Dana olahraga non-mainstream sering kali tersendat. Sponsor lebih tertarik pada cabang populer seperti sepak bola atau bulutangkis. Oleh karena itu, keberhasilan di World Games 2025 ini diharapkan bisa jadi pintu masuk untuk menarik lebih banyak dukungan finansial dari swasta. Jika tidak, prestasi ini bisa berhenti di sini tanpa berlanjut ke masa depan.
◆ Tantangan Menuju Ajang Besar Berikutnya
Setelah Chengdu, target berikutnya adalah Asian Games 2026 dan Olimpiade 2028. World Games memang bukan ajang Olimpiade, tapi banyak cabang olahraga yang kemudian bisa masuk ke Olimpiade. Panjat tebing, misalnya, sudah resmi jadi cabang Olimpiade. Artinya, prestasi emas di World Games adalah modal besar untuk menatap Los Angeles 2028.
Tantangan terbesar tentu konsistensi. Banyak atlet Indonesia bersinar sekali lalu redup karena kurang pembinaan jangka panjang. Pemerintah harus memastikan ada roadmap yang jelas dari satu event ke event lain. Tanpa itu, prestasi 2025 hanya jadi catatan sejarah sesaat, bukan lompatan menuju level lebih tinggi.
Selain itu, perlu ada kolaborasi dengan dunia pendidikan. Program beasiswa untuk atlet berprestasi harus diperluas agar mereka tidak perlu khawatir soal masa depan. Dengan begitu, atlet bisa fokus berlatih, tanpa harus meninggalkan sekolah atau pekerjaan.
◆ Apa Arti Prestasi Ini untuk Indonesia?
Prestasi Indonesia World Games 2025 bukan hanya soal 4 emas, tapi juga pesan besar: kita punya potensi luar biasa di cabang-cabang olahraga yang selama ini terabaikan. Kalau pembinaan berkelanjutan dilakukan, Indonesia bisa jadi kekuatan baru bukan hanya di Asia, tapi juga dunia.
Lebih jauh lagi, keberhasilan ini memberi energi positif di tengah situasi politik dan ekonomi yang kerap bikin pesimis. Dunia olahraga kembali jadi ruang di mana rakyat bisa bangga, bersatu, dan percaya diri menatap masa depan.
◆ Ringkasan dan Ajakan
Prestasi Indonesia World Games 2025 di Chengdu dengan raihan 4 emas, 4 perak, dan 1 perunggu adalah tonggak baru. Dari panjat tebing, muay thai, hingga wushu, atlet Indonesia membuktikan diri di level global. Kini tinggal bagaimana pemerintah, swasta, dan masyarakat bisa menjaga momentum ini agar tidak hilang begitu saja.